Archive for the 'Tentang Tanah Karo' Category



Cerita Lain Mengenai Suku Karo..!

Saya menemukan artikel bagus, dimana artikel ini membuat saya makin mengenal Suku Karo lebih jauh lagi, artikel mengenai orang karo dipandang dari sejarah, kisah dari mulut kemulut, fakta yang ada, dan juga sudut pandang si penulis….Sangat menarik loh. Karena artikel yang ditulis cukup panjang, maka agar lebih mudah penyampaiannya saya mencoba untuk memotong artikel tersebut.

 

Kehidupan Orang Karo

Orang Karo adalah satu suku di Sumatera Utara, yang mendiami daerah bagian utara Sumatera Timur, terutama Dataran Tinggi Karo. Istilah “Karo” berasal dari kata “ha-roh” sesuai dengan aksara Karo yang pertama ha; artinya pertama datang (ha = pertama, awal, roh =datang). Dalam perkembangan ha-roh berubah menjadi Karo .

Namun menurut sumber lain istilah “Karo” asalnya dari bahasa Arab, yakni Qarau, artinya telah diajari membaca atau sembahyang,kemudian kata Qarau ini lama kelamaan berubah menadi “Karo”. Sumber lain mengatakan bahwa istilah “Karo” berasal dari kata “ke’ra”, artinya “tanah tinggi yang keras”, dan kata ke’ra ini dalam perkembangan berubah menadi Karo. Sumber lain mengatakan bahwa istilah “Karo”berasal dari kata aru (haru). Aru adalah nama sebuah pulau di Teluk Arudekat Belawan sekarang.

Pulau Aru inilah yang pertama di tempati oleh para pendatang dari luar dan mereka mendirikan perkampungan di sana. Setelah jumlah orang Aru itu menadi banyak dan kampung mereka semakin besar, maka kampung itu berubah menadi “Kerajaan Haru”. Dan lambat laun kata haru itu berubah menjadi “Karo”. Menurut penelitian para ahli, lahirnya bahasa, aksara, seni suara dan tari-tarian serta adat-istiadat Karo terjadi pada zaman Haru ini, yang pada mulanya masih sangat sederhana sekali. Namun dalam  ongres Budaya Karo yang di selengarakan di Berastagi, yang berlangsung dari tanggal 1-3 Desember 1995, dikatakan bahwa istilah “Karo” berasal dari kata kar’o, artinya kar = dunia, o = bulat, jadi kar’o itu dunia bulat .

Daerah yang didiami Orang Karo meliputi Dataran Tingi Karo, Deli Serdang, Langkat, sebagaian Dairi, Simalungun dan Aceh Tenggara (Alas). Orang Karo yang mendiami daerah tersebut memakai bahasa yang sama, yaitu bahasa Karo dan mereka juga memiliki aksara sendiri yang disebutdengan aksara Karo.

Asal-usul nenek moyang suku-suku bangsa di Indonesia bagian Barat pada mumnya berasal dari Hindia Belakang. Suku Karo merupakan salah satu suku yang termasuk dalam jajaran kelompok yang berasal dari sana. Dalam pembagiannya secara global, para antropolog membagi kedatangan mereka menjadi dua gelombang. Menurut dugaan, para emigran pertama tiba di pantai Timur Sumater sekitar abad VIII SM. Mereka berdiam di sepanjang pesisir pantai Timur Pulau Sumatera, mulai dari Sumatera Timur sampai ke daerah Riau dan Jambi. Setelah berselang beberapa waktu, mereka terpaksa menyingkir ke hutan-hutan Bukit Barisan, karena kedatangan kelompok emigran kedua. Rupanya mereka tidak lagi dapat saling menyesuaikan diri karena peradaban dan budaya mereka sudah terlalu jauh berbera. Mereka yang tersingkir itulah yang kemudian menadi nenek moyang suku-suku primitif. Salah satu di antaranya adalah suku Karo yang tinggal di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Sedangkan kelompok emigran kedua lazim disebut suku Melayu pesisir atau Maya-maya, yang hingga kini tetap tinggal di pesisir pantai Timur Sumatera. Kebanyakan dari mereka ini hidup sebagai nelayan .

Daerah yang didiami Orang Karo merupakan daerah pegunungan yang bergelombang, di sekitar Liang Melas hutanya lebat dan di daerah pegunungan memiliki jurang yang  alam dan curam. Gunung-gunung yang terkenal; seperti Deleng Sibayak (2170 m), Deleng Sinabung (2417 m) Deleng Si Piso-Piso, Deleng Pinto, Deleng Linggargar, dan Deleng Sibuaten. Dan sungai-sungai yang mengalir di daerah ini adalah Lau Biang (Wampu) yang bermuara ke Selat Malaka, Lau Lisang, sedangkan Lau Menggap bermuara ke Samudera Hindia. Di daerah ini juga hidup binatang buas seperti gajah, harimau, beruang, beruk, kera, rusa, babi hutan dan binatang berkaki empat lainnya, juga terdapat ular sawah serta ular sendok yang bebisa .

Pada umumnya daerah yang didiami Orang Karo merupakan daerah subur, walaupun ada juga wilayah-wilayah tertentu yang agak tandus. Oleh karena itu mata percaharian mereka yang utama adalah bertani. Hasil-hasil pertanian yang utama dari daerah ini meliputi. Sayur-myur seperti kol-kubis, tomat, sayur putih dan sawi, kentang, wortel dan cabe; buah-buahan seperti jeruk, apokat, markisa; dan berbagai macam jenis bunga-bungaan segar. Tehnik pengolahan pertanian ini pada umumnya dilakukan dengan sistem tegalan dan persawahan. Sehabis panen padi daerah persawahan ditanami dengan tanaman palawija seperti kacang, jagung dan bawang .

Ditinjau dari segi kebudayaan, Orang Karo termasuk kelompok yang mempunyai peradaban yang cukup tinggi. Di bidang pertukangan misalnya,mereka sudah mepunyai tehnik tersendiri. Orang Karo tradisional sudah tahu bagaimana cara membuat cangkul dan parang yang baik agar tahan lama. Hasil tenunan mereka yang terkenal adalah uis gara yakni sejeniskain adat yang liberi hiasan berkilau-kilauan seperti emas. Kain ini sering dipakai dalam upacara keagamaan, adat dan perkawinan.

Kebolehan mereka dalam hal ukir mengukir dapat kita amati dalam bentuk-bentuk ukiran yang terdapat pada pintu, jendela dan dinding rumah adat Karo,yang hingga kini masih dapat kita jumpai di kampung-kampung seperti: Lingga, Barus Jahe dan Kutabuluh. Di bidang sastra-seni pun mereka cukup maju. Orang Karo punya penanggalan dan bentuk tulisan sendiri, yang dahulu hanya dipelajari oleh raja (sibayak), pengetua-pengetuaadat dan orang-orang penting dalam masyarakat di setiap kampung. Mereka mempunyai cukup banyak cerita sastra yang disebut turi-turin. Bahkanjenis sastra pantun sudah cukup lama dikenal, khususnya di kalangan muda-mudi.

Dalam hal tari-tarian serta nyanyian, mereka mempunyaibanyak bentuk yang berbeda satu sama lain sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Misalnya tarian untuk upacara keagamaan berbera dengantarian pada pesta perkawinan atau tarian adat biasa yang lazim dipertunjukkan dalam aneka pesta. Mereka juga mempunyai seperangkat alatmusik tradisional yang disebut gendang, yang dipakai untuk mengiringi nyanyian dan tartan pada setiap pesta atau upacara keagamaan .

Mengacu pada unsur kebudayaan, wujud dan bentuk kebudayaan Karo mempunyai bentuk dan nilai tersendiri yang memberikan warna dan karakteristik Orang Karo, baik dalam tingkah laku, pola hidup, sistem pergaulan dan kebiasaan-kebiasaan sebagai suku yang senantiasa bereksistensi.

Sumber : http://rolsan.blog.friendster.com/2007/09/mengenal-orang-karo/

Suku Karo Di Amerika Serikat !!!

Hai Saudara ku di manapun berada berikut ini saya informasikan dan kabari, bahwa di Amerika Ada suatu Perkumpulan Atau perpulungan Kalak Karo loh..!..mereka memberi nama perkumpulan itu (Karo American Association/KAA) atau Asosiasi Masyarakat Karo di Amerika .

Salal tau aja ya ternyata mereka tidak pernah melupakan yang namanya tradisi Merdang Merdem loh, ini dibuktikan dengan mengadakan acara merdang merdem (Pesta Panen Tahunan) seperti ditanah Karo, hanya disana mereka menyebut nya Merdang Rani.

Acara ini di selenggarakan pada bulan April 2008 yang lalu, perkumpulan ini bermarkas di Los Angeles dan sudah berdiri selama enam tahun..wah luar biasa ya…!. Acara ini ternyata diadak untuk mengenalkan budaya Karo kepada masyarakat luas mengenai Budaya Karo loh setidaknya itu yang di katakan Boy Sitepu Ketua perkumkulan KAA.

Acara tersebut dihadiri oleh Konjen RI Subijaksono Sujono dan ibu. Acara ini juga mengudang berbagai suku di Indonesia yang berada di Amerika, acara diisi dengan Tari-tarian Karo, lagu-lagu dan musik Khas Karo, dn acara ini mudah mudah akan menjadi contoh bagi masayarakat indonesia lainnya di luar di negara lain….

Nah demikian lah sedikit kabar berita yang saya dapat mengenai Suku Karo yang tersebar di AMERIKA…semoga bermanfaat dan membuat kita makin bangga dengan ragam budaya dan seni Karo..(Red//)

Sumber : http://kjri-la.net/index2.php

Penulis : Kutaraya0405

 

Tanah Karo Zaman Pendudukan Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang, kedudukan kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara tidak mengalami perubahan. Di kresidenan Sumatera Timur masih terdapat pemerintahan raja-raja seperti pemerintahan Zelfbestuur-Landschap di Zaman Belanda. Raja-raja ditugaskan untuk membantu pelaksanaan politik pemerintahan Jepang. Demikian pula di Tanah Karo, pada mulanya kepala pemerintahan Jepang hanya campur tangan jika perlu saja, tetapi akhirnya segenap lapisan dan golongan masyarakat baik raja-raja, pegawai dan rakyat berangsur-angsur menuju kearah kepemimpinan Jepang. Hal itu mengakibatkan kewibawaan masyarakat makin berkurang.

Badan-badan yang dibentuk Jepang untuk membantu perang Asia Timur Raya dan badan-badan perwakilan yang dipersiapkan untuk menyambut kemerdekaan Indonesia yang terdiri dari beberapa lapisan dan golongan makin lama kian besar pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat menggantikan pengaruh raja-raja. Beberapa diantara kebutuhan pemerintahan militer Jepang di Tanah Karo selama ia menduduki daerah itu, 1942-1945, antara lain dapat disebut berikut:

Pengumpulan keperluan pangan/padi dari penduduk
Pengumpulan sayur-sayuran melalui unit-unit distribusi disetiap desa dengan harga amat murah, malah kalau perlu dibon saja
Mengambil paksa dengan harga sangat murah hewan peliharaan penduduk seperti ternak babi, ayam, kuda dan lain-lain.
Pengrekrutan anggota masyarakat terutama pemuda untuk diseleksi menjadi anggota Sukarela Gyugun, Heiho, guru sekolah. Juga latihan massal kepada penduduk untuk bersiap menghadapi sekutu Inggris-Amerika (Belanda tidak masuk dalam lingkungan mereka) seperti juga menjadi anggota Keibodan (Kepolisian). Talapeta dan Kyodo Buedan.
Pengambilan seseorang menjadi tenaga kerja paksa/romusa, berdasar instruksi pemerintah militer Jepang, dilakukan oleh para Penghulu Kesain di suatu kampung. Ketika itu anggota Romusha dari Tanah Karo dikirim ke Tanjung Tiram membuat garam. Siapa saja yang menjadi anggota Romusha, sekembalinya dari Tanjung Tiram, badannya persis seperti tengkorak hidup dengan pipi gemuk kena penyakit biri-biri.

Disebabkan pemerintahan militer Jepang sangat keras apalagi disertai Institusi Kempetai (Polisi Militer) yang luar biasa kejamnya terhadap siapa saja, baik kepada penduduk demikian juga kepada aparatur pemerintahan swapraja entah Sibayak, Raja Urung ataupun Pengulu, dapat dikatakan roda pemerintahan militer Jepang lancar.

Sebab siapa yang mencoba mengelak dari kebijakan Jepang, pasti Kempetai bertindak habis-habisan. Contohnya dapat dikemukakan antara lain/adalah terhadap Raja Urung Lima Senina Boncar Bangun dan terhadap para tukang sihir, tukang racun (peraji-aji).

Raja Urung Lima Senina Boncar Bangun, yang menurut laporan bersalah ditahan, lalu disiksa habis-habisan di Kabanjahe, oleh Kempetai Jepang. Diayun, dipukul karet, dipompa dengan air perutnya melalui mulut, lalu diinjak-injak dan lain sebagainya. Menyebabkan Raja Urung yang sudah tua/uzur, meninggal dalam siksaan Kempetai Jepang tahun 1944.

Para tukang sihir, tukang racun dan pencuri kakap, ditangkapi oleh Kempetai Jepang. Juga disiksa habis-habisan antara lain juga dalam bentuk hukum jari dan kaki dicabuti dengan kakaktua, rokok menyala dimasukkan ke dalam lubang hidung, badan disayat sedikit-sedikit lalu dituang dengan air jeruk dan garam. Para penderita pasti menggelepar, lemas tak sadarkan diri, malah ada yang mati begitu saja.

Di samping itu, untuk memperkuat pemerintahan Jepang di bidang pertahanan, Jepang membentuk Talapeta (Taman Latihan Pemuda Tani), BOMPA (Badan Untuk Memenangkan Perang Asia Timur Raya), HAIHO (Pasukan Pembantu Tentara Jepang) dan GYUGUN sama dengan PETA di Jawa. Tokoh-tokoh penting disini yang dilatih sebagai Kadet adalah Djamin Ginting, Nelang Sembiring, Bom Ginting Suka, Selamat Ginting, Tampak Sebayang, Nas Sebayang, Bangsi Sermbiring, Pala Bangun, Semin Sinuraya, Basingen Bangun. Kesemua tokoh ini pada tahun 1945 telah menjadi pemimpin-pemimpin pasukan yang menonjol.

Namun badan-badan ini tidak berumur panjang sebab pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada pasukan sekutu setelah sekutu menjatuhkan bom di Hirosima dan Nagasaki. Dan dua hari setelah penyerahan Jepang, bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

Peristiwa yang cukup penting di zaman penjajahan Jepang di Tanah Karo adalah pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat kresidenan Sumatera Timur yang terdiri dari berbagai golongan yang disebut Syu Sangikai di awal 1945.Dari Tanah Karo yang ditunjuk sebagai anggota dewan adalah Djaga Bukit dan Ngerajai Meliala. Dewan ini sempat bersidang beberapa kali di Medan sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu.

Sebelum itu, pada tanggal 15 Juni 1945 Pemerintah militer Jepang telah mengangkat Ngerajai Meliala sebagai kepala Pemerintahan kerajaan-kerajaan Pribumi di Tanah Karo. Dengan posisi itu, Ngerajai Meliala merupakan kepala Pemerintahan Tanah Karo pertama yang membawahi langsung Pemerintahan Swapraja Pribumi Landschaap (Sibayak) dalam berurusan dengan pemerintahan militer Jepang yang saat itu dipimpin oleh K. Fukuchi di Tanah Karo.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, jabatan kepala pemerintahan di Tanah Karo masih dipegang oleh Sibayak Ngerajai Meliala. Jabatan itu baru berakhir setelah terjadi Revolusi sosial di Sumatera Timur pada tahun 1946. Revolusi sosial itu terjadi akibat desakan rakyat terhadap penghapusan sistem pemerintahan Kerajaan Sibayak Sultan yang dipimpin secara terus menerus.

Sumber : http://www.karokab.go.id , http://sumaterautara.com/news/index.php

Penulis : Sion Sembiring



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.