Archive for the 'Tentang Tanah Karo' Category



Alam Pikiran Orang Karo

Alam pikiran Orang Karo pada hakekatnya dipengaruhi oleh keadaan dan situasi alam di mana Orang Karo hidup sejak dulu. Situasi dan keadaan alam pegunungan membentuk alam pikiran, pandangan hidup dan hubungan-hubungan yang ada di antara Orang Karo itu sendiri. Eksistensi dan esensi mereka ditentukan oleh alam. Alam pegunungan yang sejuk dan indah dapat mendatangkan hidup damai, aman dan tenteram. Namun disisi lain kadang kala mendatangkan bencana dan marabahaya yang sulit dibatasi. Tantangan-tantangan alam sangat nyata dalam hidup mereka. Realitas yang mereka hadapi sungguh nyata.

Kenyataan inilah yang membuat mereka berpikir secara realistis dan selalu siapsiaga dan waspada dalam menghadapi segala tantangan dan ancaman. Oleh karena itu Orang Karo sejak dulu sampai turun temurun selalu menyelipkan pisau dipingganya dan sedapat mungkin belajar silat (ndikkar). Konstruksi rumah adat Karo menunjukkan kesiagaan menghadapi musuh, termasuk perlindungan terhadap binatang piaraan di bawah kolongnya serta setiap kampung senantiasa dipagari dengan tanaman lulang (jarak) .

Kenyataan hidup yang mereka hadapi inilah mendorong Orang Karo tradisional hidup secara berkelompok. Dalam hidup bersama ini terciptalah kebiasaan-kebiasaan yang menadi pola hidup mereka bersama, yakni adat. Adat menadi pedoman hidup mereka yang utama. Segala perilaku dan aktivitas hidup mereka ditentukan dan diatur oleh adat. Barang siapa yang melanggar adat akan dihukum dan dikucilkan. Dalam adat terkandung prinsip-prinsip hidup dan norma-norma hukum yang harus ditaati. Adat menadi dasar kehidupan yang mempunyai peranan paling fundamental dalam hubungan-hubungan mereka antara yang satu dan yang lain agar dapat hidup selaras dengan alam, dengan sesama dan yang adikodrati. Sebab adat ini bersumber pada hukum alam, dan alam merupakan manifestasi dari Yang Adikodrati. Dengan demikian adat itu merupakan pemberian Yang Adikodrati kepada manusia .

Alam pemikiran Orang Karo yang terealisir dalam adat dan bersumber pada alam ini membentuk sifat dan kepribadian mereka. Sifat dan kepribadian itu nampak dalam tidakan jujur, sopan, tegas dan berani, berpendirian teguh, percaya diri, rasional dan kritis, mudah menyesuaikan diri, gigih mencari pengetahuan, pragmatis, dan tidak serakah. Mereka selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan gigih mepertahankan hak-haknya; kalau itu diyakini sebagai haknya. Namun mereka tidaklah mau merampas apa yang menadi hak orang lain. Mereka selalu medahulukan orang lain dalam kegiatan tertentu.

 

 Mereka sangat menghormati orang lain. Ha lini nampak dalam gaya bicara mereka yang sangat demokratis, tidak memonopoli pembicaraan dan malah lebih banyak mendengarkan; meskipun Orang Karo “bedarah panas”, lekas naik darah, lebih-lebih bila mereka diperlakukan secara tidak adil. Meraka akan melepaskan dendamnya dengan cara apa saja bila ada orang memperlakukan mereka dengan tidak adil. Tetapi sebaliknya, mereka akan bersikap lemah lembut penuh sopan santun kepada setiap orang, yang berlaku baik terhadapnya. Dalam hal ini Orang Karo mempunyai pepatah yang berbunyi: Keri gia isi polana, gelah mehuli penangketken kitangna.

Artinya, biarlah air nira diminuì habis, asal yang meminumnya itu menggantungkan kembali tempatnya dengan baik pada tempatnya semula. Tentu saja dari kata-kata pepatah ini dapat diketahui bahwa Orang Karo mempunyai kebiasaan mengambil air nira untuk dijadikan gula, akan tetapi pepatah ini mempunyai arti jauh lebih luas. Maksudnya, walaupun harta kita habis, bila kahabisannya itu wajar dan demi kebaikan serta persahabatan tidak menjadi persoalan.

 

Sumber : http://rolsan.blog.friendster.com/2007/09/mengenal-orang-karo/

 

Cerita Lain Mengenai Suku Karo..!

Saya menemukan artikel bagus, dimana artikel ini membuat saya makin mengenal Suku Karo lebih jauh lagi, artikel mengenai orang karo dipandang dari sejarah, kisah dari mulut kemulut, fakta yang ada, dan juga sudut pandang si penulis….Sangat menarik loh. Karena artikel yang ditulis cukup panjang, maka agar lebih mudah penyampaiannya saya mencoba untuk memotong artikel tersebut.

 

Kehidupan Orang Karo

Orang Karo adalah satu suku di Sumatera Utara, yang mendiami daerah bagian utara Sumatera Timur, terutama Dataran Tinggi Karo. Istilah “Karo” berasal dari kata “ha-roh” sesuai dengan aksara Karo yang pertama ha; artinya pertama datang (ha = pertama, awal, roh =datang). Dalam perkembangan ha-roh berubah menjadi Karo .

Namun menurut sumber lain istilah “Karo” asalnya dari bahasa Arab, yakni Qarau, artinya telah diajari membaca atau sembahyang,kemudian kata Qarau ini lama kelamaan berubah menadi “Karo”. Sumber lain mengatakan bahwa istilah “Karo” berasal dari kata “ke’ra”, artinya “tanah tinggi yang keras”, dan kata ke’ra ini dalam perkembangan berubah menadi Karo. Sumber lain mengatakan bahwa istilah “Karo”berasal dari kata aru (haru). Aru adalah nama sebuah pulau di Teluk Arudekat Belawan sekarang.

Pulau Aru inilah yang pertama di tempati oleh para pendatang dari luar dan mereka mendirikan perkampungan di sana. Setelah jumlah orang Aru itu menadi banyak dan kampung mereka semakin besar, maka kampung itu berubah menadi “Kerajaan Haru”. Dan lambat laun kata haru itu berubah menjadi “Karo”. Menurut penelitian para ahli, lahirnya bahasa, aksara, seni suara dan tari-tarian serta adat-istiadat Karo terjadi pada zaman Haru ini, yang pada mulanya masih sangat sederhana sekali. Namun dalam  ongres Budaya Karo yang di selengarakan di Berastagi, yang berlangsung dari tanggal 1-3 Desember 1995, dikatakan bahwa istilah “Karo” berasal dari kata kar’o, artinya kar = dunia, o = bulat, jadi kar’o itu dunia bulat .

Daerah yang didiami Orang Karo meliputi Dataran Tingi Karo, Deli Serdang, Langkat, sebagaian Dairi, Simalungun dan Aceh Tenggara (Alas). Orang Karo yang mendiami daerah tersebut memakai bahasa yang sama, yaitu bahasa Karo dan mereka juga memiliki aksara sendiri yang disebutdengan aksara Karo.

Asal-usul nenek moyang suku-suku bangsa di Indonesia bagian Barat pada mumnya berasal dari Hindia Belakang. Suku Karo merupakan salah satu suku yang termasuk dalam jajaran kelompok yang berasal dari sana. Dalam pembagiannya secara global, para antropolog membagi kedatangan mereka menjadi dua gelombang. Menurut dugaan, para emigran pertama tiba di pantai Timur Sumater sekitar abad VIII SM. Mereka berdiam di sepanjang pesisir pantai Timur Pulau Sumatera, mulai dari Sumatera Timur sampai ke daerah Riau dan Jambi. Setelah berselang beberapa waktu, mereka terpaksa menyingkir ke hutan-hutan Bukit Barisan, karena kedatangan kelompok emigran kedua. Rupanya mereka tidak lagi dapat saling menyesuaikan diri karena peradaban dan budaya mereka sudah terlalu jauh berbera. Mereka yang tersingkir itulah yang kemudian menadi nenek moyang suku-suku primitif. Salah satu di antaranya adalah suku Karo yang tinggal di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Sedangkan kelompok emigran kedua lazim disebut suku Melayu pesisir atau Maya-maya, yang hingga kini tetap tinggal di pesisir pantai Timur Sumatera. Kebanyakan dari mereka ini hidup sebagai nelayan .

Daerah yang didiami Orang Karo merupakan daerah pegunungan yang bergelombang, di sekitar Liang Melas hutanya lebat dan di daerah pegunungan memiliki jurang yang  alam dan curam. Gunung-gunung yang terkenal; seperti Deleng Sibayak (2170 m), Deleng Sinabung (2417 m) Deleng Si Piso-Piso, Deleng Pinto, Deleng Linggargar, dan Deleng Sibuaten. Dan sungai-sungai yang mengalir di daerah ini adalah Lau Biang (Wampu) yang bermuara ke Selat Malaka, Lau Lisang, sedangkan Lau Menggap bermuara ke Samudera Hindia. Di daerah ini juga hidup binatang buas seperti gajah, harimau, beruang, beruk, kera, rusa, babi hutan dan binatang berkaki empat lainnya, juga terdapat ular sawah serta ular sendok yang bebisa .

Pada umumnya daerah yang didiami Orang Karo merupakan daerah subur, walaupun ada juga wilayah-wilayah tertentu yang agak tandus. Oleh karena itu mata percaharian mereka yang utama adalah bertani. Hasil-hasil pertanian yang utama dari daerah ini meliputi. Sayur-myur seperti kol-kubis, tomat, sayur putih dan sawi, kentang, wortel dan cabe; buah-buahan seperti jeruk, apokat, markisa; dan berbagai macam jenis bunga-bungaan segar. Tehnik pengolahan pertanian ini pada umumnya dilakukan dengan sistem tegalan dan persawahan. Sehabis panen padi daerah persawahan ditanami dengan tanaman palawija seperti kacang, jagung dan bawang .

Ditinjau dari segi kebudayaan, Orang Karo termasuk kelompok yang mempunyai peradaban yang cukup tinggi. Di bidang pertukangan misalnya,mereka sudah mepunyai tehnik tersendiri. Orang Karo tradisional sudah tahu bagaimana cara membuat cangkul dan parang yang baik agar tahan lama. Hasil tenunan mereka yang terkenal adalah uis gara yakni sejeniskain adat yang liberi hiasan berkilau-kilauan seperti emas. Kain ini sering dipakai dalam upacara keagamaan, adat dan perkawinan.

Kebolehan mereka dalam hal ukir mengukir dapat kita amati dalam bentuk-bentuk ukiran yang terdapat pada pintu, jendela dan dinding rumah adat Karo,yang hingga kini masih dapat kita jumpai di kampung-kampung seperti: Lingga, Barus Jahe dan Kutabuluh. Di bidang sastra-seni pun mereka cukup maju. Orang Karo punya penanggalan dan bentuk tulisan sendiri, yang dahulu hanya dipelajari oleh raja (sibayak), pengetua-pengetuaadat dan orang-orang penting dalam masyarakat di setiap kampung. Mereka mempunyai cukup banyak cerita sastra yang disebut turi-turin. Bahkanjenis sastra pantun sudah cukup lama dikenal, khususnya di kalangan muda-mudi.

Dalam hal tari-tarian serta nyanyian, mereka mempunyaibanyak bentuk yang berbeda satu sama lain sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Misalnya tarian untuk upacara keagamaan berbera dengantarian pada pesta perkawinan atau tarian adat biasa yang lazim dipertunjukkan dalam aneka pesta. Mereka juga mempunyai seperangkat alatmusik tradisional yang disebut gendang, yang dipakai untuk mengiringi nyanyian dan tartan pada setiap pesta atau upacara keagamaan .

Mengacu pada unsur kebudayaan, wujud dan bentuk kebudayaan Karo mempunyai bentuk dan nilai tersendiri yang memberikan warna dan karakteristik Orang Karo, baik dalam tingkah laku, pola hidup, sistem pergaulan dan kebiasaan-kebiasaan sebagai suku yang senantiasa bereksistensi.

Sumber : http://rolsan.blog.friendster.com/2007/09/mengenal-orang-karo/

Suku Karo Di Amerika Serikat !!!

Hai Saudara ku di manapun berada berikut ini saya informasikan dan kabari, bahwa di Amerika Ada suatu Perkumpulan Atau perpulungan Kalak Karo loh..!..mereka memberi nama perkumpulan itu (Karo American Association/KAA) atau Asosiasi Masyarakat Karo di Amerika .

Salal tau aja ya ternyata mereka tidak pernah melupakan yang namanya tradisi Merdang Merdem loh, ini dibuktikan dengan mengadakan acara merdang merdem (Pesta Panen Tahunan) seperti ditanah Karo, hanya disana mereka menyebut nya Merdang Rani.

Acara ini di selenggarakan pada bulan April 2008 yang lalu, perkumpulan ini bermarkas di Los Angeles dan sudah berdiri selama enam tahun..wah luar biasa ya…!. Acara ini ternyata diadak untuk mengenalkan budaya Karo kepada masyarakat luas mengenai Budaya Karo loh setidaknya itu yang di katakan Boy Sitepu Ketua perkumkulan KAA.

Acara tersebut dihadiri oleh Konjen RI Subijaksono Sujono dan ibu. Acara ini juga mengudang berbagai suku di Indonesia yang berada di Amerika, acara diisi dengan Tari-tarian Karo, lagu-lagu dan musik Khas Karo, dn acara ini mudah mudah akan menjadi contoh bagi masayarakat indonesia lainnya di luar di negara lain….

Nah demikian lah sedikit kabar berita yang saya dapat mengenai Suku Karo yang tersebar di AMERIKA…semoga bermanfaat dan membuat kita makin bangga dengan ragam budaya dan seni Karo..(Red//)

Sumber : http://kjri-la.net/index2.php

Penulis : Kutaraya0405

 



Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.